Home > CINTA/LOVE > KEYAKINAN CINTA AMEL

KEYAKINAN CINTA AMEL

Keyakinan Cinta Amel

“Mel mau sampai berapa lama kamu bertahan?” tanya Linda dengan petanyaan penuh empati.

“Nggak tahulah Lin, … tapi aku sangat menyayangi Edo …”

“Tapi Mel,kamu tidak bisa seperti ini terus,kamu akan tersiksa dan terus terluka … !”

________

Telah lebih dari 3 tahun Amel menjalin hubungan dengan Edo, namun sifat Edo yang terlalu gampang cemburu dan cenderung posesif selalu meniggalkan luka-luka bagi Amel.

Kerap kali Amel merasa tak diperhatikan, diremehkan, dan disakiti karena ego Edo.

Linda sudah kerap kali menasehati Amel supaya segera putus saja dengan Edo, namun Amel masih saja teguh pada pendiriannya. Entah kenapa Amel tetap tidak bisa dan tak kuasa untuk meninggalkan Edo.

Rentang waktu selama 3 tahun menjalin hubungan dengan Edo jika dikalkulasi untung-rugi neraca kebahagiaan Amel terlalu ringan. Relung-relung hati Amel hanya menyisakan tempat bagi kekecewaan dan luka batin.

Apa yang sebenarnya diharapkan dari seorang Edo yang begitu egois,  menang sendiri,  sukar untuk mengalah? Bukankah Amel bisa saja dengan begitu mudahnya meninggalkan Edo dan beralih ke lain hati,  mengingat gadis melankolik ini selain anggun juga dewasa, lembut,  sangat perhatian, dan … tentu saja menarik!

Edo …???

Lelaki egois, tipe kolerik dan … posesif! Memang sih dia ganteng, tapi keras kepala. Pandai mengungkapkan rasa sayang, tapi over-protektif. Namun apa yang sebenarnya membuat Amel terus mempertahankan Edo?

Hingga masalah semakin memuncak,  yang membuat Amel seolah-olah selalu jadi korban, Amel tetap memperhatikan, dan menyanyang Edo. Linda semakin heran. Teman-teman Amel semakin heran. Ada apa dengan Edo? Atau lebih tepatnya ada apa dengan Amel?

Waktu semakin bergulir …

Edo …??

Kenapa tetap Edo??

“Pokoknya aku tidak mau lagi melihat kamu pulang dari kampus bersama siapapun! Kalo aku tidak bisa jemput, kamu musti pulang sendiri! Kenapa sih mesti pulang dengan teman-teman cowok? Bukankah ada Linda, Meta, Shanti, … Kenapa selalu dengan Dody? Atau kalau tidak dengan Jefry? Apa tidak ada teman cewek yang bisa diajak pulang bareng …?? teriak Edo marah dengan panjang lebar kepada Amel.

“Iya Do, … tapi …”

“Udahlah aku tidak mau dengar banyak alasan … pokoknya aku tidak suka!” Sambil membanting pintu, Edo meninggalkan Amel.

Terdiam …

Kesal …

Harus lebih bersabar …

Tanpa ada kesempatan bagi Amel menjelaskan dan memberikan alasan. Itu baru masalah pulang dari kampus, belum lagi masalah-masalah lainnya. Amel selalu menjadi pihak yang disalahkan. Pihak yang tidak pernah ada benarnya di mata Edo.

_________

Gerimis sore itu membuat rasa kesepian Amel smakin kuat. Pandangan kosongnya menerawang menembus basahnya tanaman-tanaman di depan jendela kamarnya.

Dingin … ya sedingin dan sebeku rasa dalam hati Amel.
Air mata mulai bergulir, sesekali ia menyeka dengan jari-jarinya.

3 tahun lebih hubungannya dengan Edo. Hari-hari dalam perjalanan cintanya itu semakin lama semakin berat. Amel tak bisa berbuat apa-apa. Yang Amel tahu ia sayang Edo, dan … semakin cinta.

Antara janji dan kekecewaan …
Antara pengorbanan dan luka …
Antara sayang dan rasa diremehkan …

Gerimis sore itu semakin deras menjadi hujan yang tak dapat terbendung lagi. Seiring dengan gelapnya langit, menambah kegalauan di hati Amel.

Mencoba melihat hatinya sendiri Amel ingin menepis semua rasa yang berkecamuk di dalam dirinya.
Air matanya deras bergulir seumpama jatuhnya air hujan dari ketinggian langit.

Sepi …

Serasa sendiri …

Tetap yang ia tahu hanyalah menyayangi Edo … yah apapun yang ia alami ia tahu kalau hatinya masih sayang dan cinta Edo.

Kemudian …

Handphone Amel berdering, ternyata itu dari Linda. Yah setidaknya kebekuan dan kesunyian sore itu terpecahkan dengan adanya telpone dari Linda.

“Mel … ntar jam setengah delapan kita keluar yuk ..”

Dengan isak tangis, Amel agak berat menjawab ajakan Linda.

“Mel … kamu kenapa? Edo lagi?”

Terdiam …

Suara isak tangis Amel terdengar di telinga Linda.

“Ntah berapa kali aku musti katakan Mel … aku nggak rela kamu terus tersiksa. Cinta ya cinta. Tapi tetap harus seimbang dong! Memang cinta itu butuh pengorbanan, tapi harus seimbang demi tumbuh suburnya cinta ke dua belah pihak. Selama ini kamu sudah terlalu banyak mengalah dengan Edo. Ketidak dewasaan Edo tidak akan bisa mengimbangi sayang dan cinta kamu … dan ini jelas justru akan menghancurkan hubungan kalian sendiri, sekalipun kamu tetap bertahan dengan rasa sayangmu itu Mel.”

“Iya Lin aku paham,tapi aku bertahan terhadap Edo karena … ” Amel terhenti tak bisa melanjutkan.

“Karena apa?” desak Linda.

“Karena … sebenarnya Edo memiliki suatu penyakit yang dalam jangka panjang akan membawa pada kelumpuhan. Suatu penyakit yang sulit sekali untuk sembuh total Lin …”

“Haaaah … ? Knapa kamu baru bilang sekarang? Jadi … selama ini kamu bertahan karena merasa kasihan?”

“Bukan … Lin! Yang jelas melihat keadaannya itu aku sangat sedih, hancur, tapi di sisi lain aku semakin sayang, tak peduli apapun yang ia lakukan padaku. Aku siap menerima dia apa adanya, karena aku percaya dan yakin bahwa cinta itu akan mengubah segalanya, termasuk juga mengubah diriku sendiri dalam bersikap terhadap Edo”

“Tapi … Mel …”

“Lin … ketika kamu benar-benar mencintai seseorang, cinta itu akan mengubah … ya mengubah! Mengubah segalanya, setidaknya akan mengubah dirimu dalam merespon atau bersikap terhadap segalanya, bahkan kenyataan yang pahit sekalipun.”

“Tapi kenapa kamu menangis?”

“Aku sungguh sedih Lin, sedih terhadap kondisi dan sikap Edo, itu yg membuatku menangis. Aku bertahan dalam kesepian walau kenyataannya ada Edo di depan mata. Aku bertahan sambil terus serasa hancur kalo memikirkan penyakit Edo. Namun kembali cinta itu menguatkanku untuk tetap bertahan walau dalam tangisan. Itulah pengorbanan. Bagiku itulah keyakinan.”

Hujan semakin deras … Terselimuti dinginnya di malam kelam, Amel dan Linda masih terus ngobrol.

Setidaknya hati Amel telah lega malam itu ungkapkan keyakinan akan cintanya. Keyakinan akan alasan ia tetap bertahan dengan Edo …
Cinta yang mengubahkan …

-Andrew King-

King’s Note:

Cinta memang mengubahkan segala sesuatu, memberikan kekuatan yang bahkan kita sendiri tidak dapat memahami kekuatan itu.

Segala keadaan berlutut di bawah keagungan cinta, sekalipun hancur, teremehkan, dan terluka. Daya penyembuh cinta dari segenap pahit yang menyayat jiwa mengubahkan keputusaasaan menjadi tahta dimana hati penuh sayang meraja.

Keyakinan cinta akan datangnya harapan  di tengah sepi dan ketertolakan, mengubahkan kehancuran dan luka hati menjadi ketegaran diri yang terus merengkuh pengorbanan demi kebaikan dan kebahagiaan yang dicintai.

Mengubahkan … ya cinta itu mengubahkan …

-Andrew King-

Categories: CINTA/LOVE
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: