Home > CINTA/LOVE > CINTA YANG DIAM Oleh : Andrew King

CINTA YANG DIAM Oleh : Andrew King

Diamnya cinta bukanlah berarti tidak mencintai.
Diamnya cinta tidaklah selalu berarti kurangnya perhatian.
Justru kadang diamnya cinta menyimpan kekuatan pengorbanan yang didasarkan atas terkuburnya keegoisan.

Ketika hubungan sudah terambang kehancuran karena kesalahpahaman dan bertubinya ketiadaan penguasaan diri,adalah waktu yang baik untuk cinta berdiam. Bukan karena tak berdaya bagi sebuah jalan penyeleseian, namun justru sedang mencari ketentraman demi sebuah hikmat dalam menyelamatkan hubungan.

Diamnya cinta sedang menimbun sebuah kekuatan diri yang penuh pengorbanan untuk membalikkan keadaan.
Cinta yang mengalah seringkali harus rela untuk berdiam, sejenak seolah membiarkan keadaan memanas terbakar amarah dan kekecewaan, namun sebenarnya cinta yang diam sedang mendinginkan diri, memenjarakan ego, dan menahan kepentingan diri yang selalu ingin menang tak terbantahkan.

Cinta yang diam mencari celah-celah indahnya sebuah penyeleseian bagi keharmonisan. Memang serasa sesak-menyakitkan ketika harus bungkam tak melontarkan kata dan pembelaan, namun cinta yang diam justru menunjukkan betapa diri yang penuh kesesakan rela terdiam untuk sebuah ketentraman.

Cinta yang diam menggenggam kokoh kepercayaan bahwa pengorbanan pasti akan menuai kebahagiaan, bukan bagi diri sendiri namun justru bagi dia yang dicintai, dan bagi keindahan jalinan hubungan walau masih dalam prahara dan ambang keretakan.
Kokohnya kepercayaan terbawa dalam pengharapan yang tak terbinasakan untuk kedamaian. Walau harus berdiam, namun keyakinan berbicara, pangharapan menjadi bahasa doa. Air mata bukan air mata tanpa daya namun air mata kuatnya bahasa pengorbanan.

Diamnya cinta kadang haruslah demikian. Harus berdiam saat benar-benar ingin melangkah. Harus berdiam jutaan kata saat benar-benar ingin merangkai penjelasan. Harus berdiam saat jiwa meronta tak kuasa lagi menahan.

Diamnya cinta memang harus demikian. Mengetahui indahnya waktu kapan untuk berkata dan kapan untuk terbungkam. Memahami tepatnya saat kapan harus mendekap erat dan kapan harus melepaskan.

Diamnya cinta memang harus demikian. Mengunci, mengubur, memenjarakan, membuang, membakar habis ego supaya tetap terdiam demi kebahagiaan dan senyuman dia yang dikasihi.

Diamnya cinta bukanlah cinta yang diam, walau tiada rajutan kata namun cinta tetap berbicara di relung hati yang terdalam yang terungkap dalam kedalaman tanpa kata.

Cinta yang diam kadang merupakan wujud terbesar dari keajaiban sebuah pengorbanan.

Categories: CINTA/LOVE
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: