Home > Tak Berkategori > FILSAFAT KERJA

FILSAFAT KERJA

FILSAFAT KERJA
(Sebuah kajian filsafat kerja)
Oleh: Andrew King II

PENDAHULUAN
Kehidupan manusia tidak lepas dari kerja. Bahkan seringkali kerja dianggap sebagai hal yang paling sentral dalam kehidupan manusia. Keseharian hidup manusia sebagian besar diisi dengan kerja, karena manusia harus melangsungkan hidupnya, harus memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya oleh karena itu manusia harus bekerja. Pada titik ini kerja dianggap atau dipandang sebagai hal yang paling sentral dalam kehidupan manusia yang berhubungan bukan saja dengan kelangsungan hidup manusia namun juga masa depan manusia dan sebagai jawaban perkara hidup-matinya manusia.
Namun apakah kerja hanya dipandang sebagai sarana untuk melangsungkan hidup manusia saja? Pemikiran-pemikiran tentang kerja bagi hidup manusia berkembang seiring dengan berkembangnya jaman dan peradaban manusia itu sendiri. Dalam pencariannya akan hakekat kerja maka manusia menemukan bahwa bekerja bukan saja hanya dipandang sebagai sarana pemenuhan kebutuhan dan kelangsungan hidup manusia namun juga berkembang dalam pemikiran-pemikiran dan tujuan-tujaun tentang kerja yang pada akhirnya memperkaya arti atau makna kerja itu sendiri.

Perkembangan Sejarah Pemikiran Makna dan Hakekat Kerja
Untuk mengetahui dan memahami hakekat kerja manusia maka adalah perlu untuk mengerti tentang sejarah pemikiran mengenai makna dan hakekat kerja. Perkembangan pemikiran tentang makna dan hakekat kerja setua umur manusia itu sendiri.
Dalam kepercayaan Kristen dan Yahudi diyakini bahwa setelah manusia jatuh dalam dosa maka manusia menjadi terkutuk, demikian juga tanah dimana manusia harus berpeluh untuk bekerja. Dalam hal ini kerja dipandang dari dua sisi; yang pertama kerja dengan berpeluh dan bersusah payah merupakan akibat dosa manusia, yang pada awalnya manusia tercipta dan dirancang untuk bekerja tanpa susah payah, bekerja dalam naungan berkat Tuhan. Yang kedua kerja dimaknai sebagai sebuah tanggung jawab manusia untuk melangsungkan hidupnya.
Perkembangan berikutnya tentang pemikiran makna dan hakekat kerja dapat dilihat dari para filsuf dan para pemikir serta sastrawan-sastrawan. Sekitar 2600 tahun yang lalu di Yunani, Hesiodotus menulis sebuah puisi tentang kerja yang berjudul Work and Days. Di dalamnya ia berpendapat, bahwa kerja adalah isi utama dari kehidupan manusia. Di sini kerja dimaknai sebagai bagian sentral di dalam kehidupan manusia. Dengan pikiran dan tubuhnya, manusia mengorganisir pekerjaan, membuat benda-benda yang dapat membantu pekerjaannya tersebut, dan menentukan tujuan akhir dari kerjanya.
Sejak dulu manusia sudah memiliki pandangan, bahwa kerja adalah sesuatu yang suci. Kerja adalah suatu bentuk panggilan dari Tuhan. Kerja adalah suatu pengabdian, apapun bentuknya, dan semua itu layak mendapatkan penghormatan. Di Eropa pada abad ke-14, para rahib Benediktin bekerja di ladang dan sawah bergantian dengan mereka berdoa. Kerja tangan dianggap sebagai sesuatu yang sama sucinya seperti orang berdoa.
Plato menegaskan ada berbagai macam level manusia, dan setiap manusia memiliki pekerjaan yang sesuai dengan levelnya.
Pada masa perbudakan makna dan hakekat kerja mengalami perubahan dilihat dari derajat atau strata manusia. Di satu sisi kerja dipandang sebagai sesuatu yang rendah. Warga bangsawan tidak perlu bekerja. Mereka mendapatkan harta dari status mereka. Bahkan dapat dikatakan bahwa pada masa itu, manusia yang sesungguhnya tidak perlu bekerja. Ia hanya perlu berpikir dan menulis di level teoritis. Semua pekerjaan fisik diserahkan pada budak. Budak tidak dianggap sebagai manusia seutuhnya.
Pada abad ke 17 dan 18, refleksi filsafat tentang kerja mulai berubah arah. Salah seorang filsuf Inggris yang bernama John Locke pernah berpendapat, bahwa pekerjaan merupakan sumber untuk memperoleh hak miliki pribadi.
Hegel, filsuf Jerman, juga berpendapat bahwa pekerjaan membawa manusia menemukan dan mengaktualisasikan dirinya.
Karl Marx, murid Hegel, berpendapat bahwa pekerjaan merupakan sarana manusia untuk menciptakan diri. Dengan bekerja orang mendapatkan pengakuan.

Makna Filosofis Kerja di Zaman Moderen
Franz Magnis-Suseno menegaskan, bahwa ada tiga fungsi kerja, yakni fungsi reproduksi material, integrasi sosial, dan pengembangan diri. Yang pertama dengan bekerja, manusia bisa memenuhi kebutuhannya. Yang kedua dengan bekerja, manusia mendapatkan status di masyarakat. Ia dipandang sebagai warga yang bermanfaat. Dan yang ketiga dengan bekerja, manusia mampu secara kreatif menciptakan dan mengembangkan dirinya.
Sedangkan menurut Peter Drucker kerja memiliki lima dimensi:
>Dimensi pertama adalah dimensi fisiologis. Yang perlu ditekankan disini adalah, bahwa manusia bukanlah mesin. Cara ia bekerja pun berbeda dengan cara kerja mesin.
>Dimensi kerja kedua adalah dimensi psikologis. Dalam arti ini kerja bisa berarti berkat sekaligus kutuk. Orang perlu untuk bekerja. Namun seringkali kerja juga menjadi beban yang sangat berat.
Hegel seorang filsuf Jerman pernah berpendapat, bahwa kerja adalah aktualisasi diri seseorang. Drucker sendiri berpendapat bahwa kerja merupakan perpanjangan dari kepribadian manusia. Kerja adalah suatu pencapaian mimpi dan perwujudan prestasi. Kerja adalah adalah aktivitas yang dilakukan oleh seseorang untuk mendefinisikan dirinya sendiri dan kemanusiaannya.
>Dimensi ketiga adalah dimensi Sosial Kerja. Drucker juga berpendapat bahwa kerja memiliki dimensi sosial. Kerja menyatukan orang dari berbagai latar belakang untuk bertemu dan menjalin relasi.
>Dimensi keempat adalah dimensi ekonomis kerja. Untuk hidup orang perlu untuk bekerja. Sudah sejak dulu pernyataan ini berlaku universal.
>Dimensi kelima adalah dimensi Kekuasaan Kerja. Di dalam organisasi selalu ada relasi-relasi kekuasaan, baik secara implisit ataupun eksplisit.

KESIMPULAN
Manusia dalan kehidupannya tidak lepas dari kerja. Kerja dimaknai secara berbeda-beda seiring dengan perkembangan sejarah manusia dan kebudayaan serta peradabannya. Dengan perkembangan pemikiran dalam memaknai kerja maka manusia juga mengalami perubahan dalam kinerja. Cara manusia dalam memaknai secara filosofis tentang kerja akan mempengaruhi kinerjanya demikian juga hasil-hasilnya. Manusia dapat memaknai kerja sebagai:
– yang bersifat sakral, spiritual, dan religius
– yang bersifat psikoligis
– yang bersifat sosial dan komunal. Bekerja adalah cara terbaik untuk menjadi bagian dari suatu kelompok.
– yang bersifat personal dalam arti untuk mengembangkan potensi dan mengaktualisasi diri, pekerjaan membantu orang merumuskan identitasnya, walaupun tidak secara keseluruhan.
– dan yang terakhir manusia dapat memaknai kerja hanya sebagai yang bersifat ekonomi belaka. Kepuasan psikologis, sosial, dan personalpun menjadi identik dengan kepuasan ekonomis terutama ketika manusia terperangkap dalam hedonisme dan konsumerisme.

Sent from Fast notepad

Categories: Tak Berkategori
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: