Home > Tak Berkategori > GEREJA DALAM REVITALISASI KEHIDUPAN BERBANGSA, BERNEGARA, DAN BERMASYARAKAT

GEREJA DALAM REVITALISASI KEHIDUPAN BERBANGSA, BERNEGARA, DAN BERMASYARAKAT

Gereja dalam Revitalisasi Kehidupan Berbangsa, Bernegara dan Bermasyarakat
Oleh: Andrew King II

Pendahuluan

Indonesia yang telah sekian lama merdeka masih juga didera dengan berbagai permasalahan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara serta bermasyarakat. Gerakan-gerakan separatis yang mengancam keutuhan NKRI masih juga belum teratasi secara tuntas. Munculnya bentuk-bentuk fanatisme agama yang menghalalkan kekerasan masih juga belum teratasi yang pada gilirannya sangat meresahkan kehidupan bermasyarakat yang sejatinya sangat mendambakan keharmonisan dalam pelbagai perbedaan yang dibingkai dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika. Para elit politik yang semakin lama terkuak praktik-praktik korupsi dalam beragam bentuk menyuarakan betapa ternodanya kepentingan rakyat dan seluruh bangsa. Pertarungan antar warga, antar desa, antar pelajar, mencerminkan kenihilan penanaman nilai-nilai moral dan etika serta nilai-nilai spiritual-religius yang seharusnya telah mengakar kuat di sebuah bangsa yang merdeka yang memiliki dasar negara yang kokoh yaitu Pancasila.
Betapa gelapnya bumi Indonesia terlihat dari kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat yang seharusnya semakin lama semakin harmonis, utuh, indah, kokoh dan menaikkan derajat bangsa dan negara di kancah dunia internasional. Bangsa yang merdeka yang terbangun dari pondasi yang kuat yang bernama Pancasila, ditegakkan berdiri kokoh dengan UUD’ 45 yang kemudian direkatkan dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika menjadi NKRI seharusnya demikian bersinar dan bercahaya terang dalam kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat. Namun yang terjadi justru sebaliknya, mulai dari anak-anak remaja (pelajar), pemuda, hingga para elit politik tidak menunjukkan adanya sebuah kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat yang sesuai dengan dasar dan tujuan negara yang terdapat dalam Pancasila dan Pembukaan UUD’45.
Sampai pada titik ini masih terdapat pergumulan (strugle) dalam penghayatan yang baik dalam kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat di bumi Indonesia. Harus ada revitalisasi dalam kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat, yang pada gilirannya akan membawa keutuhan NKRI, dan tentunya semangat kebersamaan dalam pelbagai perbedaan dalam nuansa keharmonisan indahnya Bhinneka Tunggal Ika untuk mencapai cita-cita luhur bangsa.
Revitalisasi kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat dimulai dari tiap individu yang beriman yang mendasarkan seluruh kehidupannya pada Tuhan, pada nilai-nilai luhur dan mulia yang membentuk pola kehidupan yang bukan hanya satun beretika namun sebuah pola kehidupan ilahi yang mencerahkan, yang bersinar dalam kegelapan dan melahirkan pengharapan cerah di bumi Indonesia (Yesaya 60:1-4). Di sinilah gereja sangat berperan dalam merevitalisasi kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat. Gereja berdampingan dengan negara sebagai pencerah, pemberi terang dan pengharapan dalam mewujudkan kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat. Gereja (baca: orang-orang percaya) dipanggil untuk menjadi terang yang mencerahkan bangsa (Matius 5:14-16). Gereja ada di dunia untuk mewakili dan merepresentasikan Tuhan Pencipta dan Pemilik alam semesta, menghadirkan Kerajaan-Nya di atas bumi dalam berbagai segi kehidupan termasuk juga dalam kehidupan berbangsa dan bernegara serta bermasyarakat. Gereja seharusnya sangat berperan dalam merevitalisasi kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat karena adanya beberapa hal di bawah ini.

I. Gereja dipanggil untuk menjadi pencerah dan penerang dalam kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat. (Mat 5:14-16)
Kehadiran gereja (orang percaya) di dunia secara umum atau di bumi Indonesia secara khusus jelas memiliki tujuan ilahi. Gereja memilki panggilan ilahi yang mulia dan luhur untuk menjadi terang yang mencerahkan dan menerangi kegelapan kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat di bumi Indonesia. Gereja tidak bisa tinggal diam di tengah gelapnya kehidupan bangsa. Gereja memiliki tanggung jawab ilahi yang harus dilaksanakan secara tuntas dalam memancarkan terang, menjadi jawaban dan pencerah bagi kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat.
Nihilnya nilai-nilai luhur dan mulia yang mampu memberi terang dan mencerahkan di kehidupan bangsa harus segera diisi oleh gereja yang telah didesain Tuhan sejak awal untuk memenuhi bumi dengan Firman Kebenaran yang mencerahkan dan menghidupkan. Gereja sudah seharusnya memberikan pengaruh ilahinya di tengah masyarakat. Orang-orang percaya yang telah mendapatkan keselamatan kekal dan kebenaran seharusnya tidak tinggal diam melihat bobrok dan gelapnya bangsa. Orang percaya tidak dipanggil untuk hanya sekedar beribadah di gedung gereja pada jam-jam ibadah, berkutat hanya pada pelayanan di empat tembok gereja, tanpa berbuat apapun bagi pencerahan kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat, padahal di setiap diri orang percaya ada panggilan mulia dan kudus untuk menjadi terang yang mencerahkan bangsa. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa gereja memiliki panggilan kudus dan mulia untuk menerangi dan mencerahkan gelapnya kehidupan bangsa.
Setiap orang percaya dari berbagai profesi dan latar belakang yang ada dipanggil untuk menjadi terang yang mencerahkan. Gelapnya kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat di bumi Indonesia ini merupakan tanggung jawab gereja juga. Gereja harus mengambil tanggung jawab ini karena gereja pada dasarnya sudah memiliki panggilan kudus. Bagaimana wujud menjadi terang yang mencerahkan bagi kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat?

a) menjadi pribadi yang santun di tengah maraknya perilaku anarki.
b) menjadi contoh dalam menyuarakan kebenaran yang tanpa kompromi di tengah bobroknya sistem yang ada
c) menjunjung tinggi semangat kebersamaan di tengah ragam perbedaan
d) berani untuk dinilai namun juga diteladani dalam integritas di tengah lunturnya nilai-nilai luhur dan nilai-nilai yang mulia.
e) memparktikkan kasih Kristus yang tercermin dalam pengampunan, penerimaan, dan kerelaan berkorban di tengah kehidupan yang mementingkan diri sendiri maupun golongan.
f) berani menolak segala bentuk disintegrasi bangsa dan paham-paham separatis yang mengancam keutuhan NKRI.
g) mendukung gerakan atau aktivitas yang menyokong kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat ke arah yang lebih baik.
Hal-hal tersebut di atas hanyalah beberapa contoh kecil bagaimana kita sebagai orang percaya terjun dalam kehidupan nyata berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat untuk menerangi dan mencerahkan. Tanggung jawab atas panggilan kudus ini bukan hanya menjadi milik para rohaniwan saja, namun milik seluruh orang percaya yang telah menerima keselamatan kekal dan kebenaran Kristus.
Gereja yang terdiri dari orang-orang yang sadar akan panggilannya untuk menjadi terang yang mencerahkan akan mampu membawa kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat menjadi lebih indah, terang, harmonis, dan menjadi partner yang mendampingi negara yang selalu memiliki jawaban serta solusi. Gereja (orang-orang percaya) yang demikian ini akan senantiasa diharapkan sumbagsihnya, peranan nyatanya di kemudian hari bagi sebuah kehidupan bangsa yang lebih baik lagi. Tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa masa depan kehidupan yang lebih baik untuk berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat ada di tangan gereja (orang-orang percaya). Gereja bahkan akan menentukan masa depan bangsa, menjadi penentu masa depan bangsa, karena gereja memiliki bukan hanya panggilan kudus, namun juga kuasa dan otoritas atas muka bumi.

II. Gereja diberi kuasa (power) dan wewenang (otoritas) untuk merevitalisasi kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat. (Efesus 1:22-23)
Telah disebutkan sebelumnya bahwa gereja memiliki kuasa dan wewenang sehingga tidaklah berlebihan jika dikatakan masa depan bangsa ada di tangan gereja. Hal ini memanglah tidak berlebihan karena Tuhan Yesus dengan jelas mengatakan bahwa segala kuasa di surga dan yang ada di bumi telah diberikan Bapa kepada-Nya (Mat 28:18). Dan kuasa tersebut Kristus limpahkan kepada gereja (Efesus 1:22-23). Dengan demikian gereja memiliki bukan hanya panggilan kudus untuk menjadi terang yang menerangi dan mencerahkan namun juga memiliki kuasa (power) dan wewenang (otoritas) di bumi. Dalam konteks revitalisasi kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat gereja harus menggunakan kuasa dan otoritas yang telah diberikan padanya.
Revitalisasi kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat oleh gereja dapat dijabarkan sebagai berikut:

a) Gereja memiliki jawaban atas ragam persoalan kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat.

Ketika ragam persoalan mendera kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat di bumi Indonesia, maka sejatinya gereja yang telah dilimpahi kuasa dan otoritas pasti memiliki jawaban. Orang-orang percaya tidak akan kekurangan hikmat untuk menjadi jawaban dan memiliki solusi atas tiap persoalan yang timbul. Seperti pada zaman Daniel dan juga Yusuf, gereja dilimpahi dengan hikmat dari tempat maha tinggi untuk pada akhirnya menjadi jawaban, memiliki solusi, dan menyelamatkan bangsa. Gereja Yesus Kristus telah didisain, dirancang untuk memiliki dan menjadi jawaban atas persoalan yang ada dalam kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat. Sudah saatnya insan-insan bangsa mencari orang-orang percaya bagi jawaban persoalan kehidupan bangsa. Gereja merevitalisasi dengan cara menjadi dan memiliki jawaban bagi kehidupan bangsa.

b) Gereja memiliki daya-pengubah-permanen untuk memberi input yang signifikan bagi hidupnya (cerahnya) kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat.

Gereja Yesus Kristus diperlengkapi dengan kuasa dan otoritas surga untuk mampu mengubah paradigma, perilaku, dan moral masyarakat secara permanen untuk mewujudkan kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat secara lebih baik. Ketika masyarakat terseret dengan ragam perilaku dan pola pikir yang menyimpang yang mengganggu kehidupan bangsa dan kebingungan dengan cara untuk dapat mengubahnya maka gereja harus tampil berbicara lantang menyuarakan dan mentransferkan kuasa dan otoritas untuk adanya daya-pengubah-permanen pada masyarakat yang bisa menjadi input yang signifikan bagi perubahan ke arah yang lebih baik akan kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat. Revitalisasi dilaksanakan dengan turut serta membangun insan-insan bangsa untuk mengalami perubahan permanen yang tidak lagi menjadi pribadi-pribadi yang mudah terhasut dalam pola pikir dan perilaku yang menodai kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat.

c) Gereja memiliki sumber-sumber surgawi untuk mencipta atmosfir yang kondusif bagi kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat.

Karena gereja beroperasi bukan dengan hikmat dan kuasa yang dari dimensi bumi, melainkan dari dimensi surga; maka gereja dimampukan untuk menarik sumber-sumber surgawi guna mencipta atmosfir yang kondusif bagi kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat secara lebih baik. Bukan merupakan hal yang tidak mungkin bagi gereja untuk dapat mencipta atmosfir yang kondusif atas masyarakat dan seluruh bangsa.

d) Gereja memiliki kuasa dan wewenang rohani untuk menghambat dan mematahkan laju pergerakan kegelapan yang memprovokasi hancurnya kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat.

Setiap usaha kuasa kegelapan yang mengadakan pergerakan untuk memprovokasi hancurnya kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat dapat dihentikan oleh gereja, karena gereja memiliki kuasa dan wewenang rohani dari surga untuk menghentikannya. Doa yang penuh kuasa, suara kenabian dan kerasulan yang menegakkan kebenaran yang tanpa kompromi, merupakan beberapa bentuk nyata dalam menghambat laju gerakan kuasa kegelapan yang memprovokasi dan mempengaruhi masyarakat. Revitalisasi terjadi saat gereja menggunakan kuasa dan otoritasnya untuk berdoa dan menyuarakan suara kenabian dan kerasulan.

e) Gereja memiliki kemampuan ilahi untuk menciptakan kesempatan-kesempatan dan jembatan-jembatan bagi terbangunnya kehidupan yang luhur dan mulia untuk sebuah kemasyarakatan yang indah, harmonis, dan sejahtera.

Gereja yang telah dilimpahi anugerah Kristus penuh dengan kecakapan atau kemampuan mencipta jembatan-jembatan dan kesempatan-kesempatan untuk pada akhirnya mampu membangun sebuah kehidupan yang luhur dan mulia bagi adanya tatanan masyarakat yang indah, harmonis, dan sejahtera. Setiap individu akan terbangun dalam nilai-nilai luhur dan mulia dari kebenaran-kebenaran Tuhan yang dikumandangkan melalui Firman dan individu-individu (orang-orang percaya) tersebut akan mempengaruhi komunitas-komunitas dari berbagai profesi dan tingkatan kehidupan untuk pada gilirannya tercipta dan terbangun sebuah kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat yang semakin baik.

f) Gereja (lokal) memiliki kemampuan melahirkan sumber daya – sumber daya manusia yang berkualitas yang akan menyatakan peranannya merevitalisasi kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat.

Sebagai basis dimana Tuhan berkarya nyata didalamnya untuk mendidik dan memperlengkapi orang-orang percaya, maka gereja lokal diberi kemampuan melahirkan sumber-sumber daya manusia yang berkualitas dalam integritas, moral, dan unggul dalam profesi masing-masing serta dalam kemampuannya bersosialisasi di tengah masyarakat untuk menyatakan perannya membangun kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat. Gereja lokal harus sadar akan panggilan dan kemampuan melahirkan pribadi-pribadi yang berkualitas unggul dalam kaitannya merevitalisasi kehidupan berbangsa dan bernegara. Pribadi-pribadi yang unggul dalam hal integritas, moral, dan spritual (baca: iman) seharusnya lahir dan dibentuk dari “pelatihan” di gereja (gereja lokal sejatinya bukan hanya tempat untuk sekedar beribadah, tetapi untuk memperlengkapi jemaat; Efesus 4:11-16). Pribadi-pribadi yang berkualitas unggul ini ketika dilepaskan (diutus) di tengah masyarakat akan mampu merevitalisasi kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat.

g) Gereja menjadi pola ilahi yang jelas tentang sebuah kehidupan yang mulia, benar, dan harmonis bagi sebuah kemasyarakatan dan kehidupan berbangsa-bernegara.

Kehidupan personal dan komunal dari orang percaya harus menjadi teladan dan pola ilahi bagi masyarakat dalam upaya mencapai kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat yang semakin baik. Di titik inilah para pemimpin gereja harus berani menjadi teladan yang transparan dalam integritas. Semua diawali oleh para pemimpin, kemudian keteladanan dan pola ilahi akan turun kepada jemaat untuk pada akhirnya menjadi pola dan teladan bagi masyarakat dalam berbangsa dan bernegara di bumi Indonesia.

III. Gereja diberi mandat Kerajaan untuk merepresentasikan Kerajaan Allah dalam kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat.

Kehadiran orang-orang percaya yang kemudian berhimpun dalam gereja lokal adalah pada akhirnya untuk merepresentasikan Kerajaan Allah di atas muka bumi. Di bumi Indonesia gereja sejatinya bergerak merepresentasikan Kerajaan Allah dan Kristus Sang Raja Segala Raja. Gereja telah diberi mandat Kerajaan untuk mewakili Sang Raja dan Kerajaan-Nya sehingga kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat dapat terpengaruh oleh nilai-nilai luhur dan mulia dari Kerajaan. Hal-hal yang berkaitan dengan hal ini adalah:

a) gereja merupakan portal surga untuk membawa kehendak Tuhan terjadi sepenuhnya dalam kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat.
b) gereja merupakan parlemennya Allah yang beroperasi di bumi untuk memberikan arahan dan ketetapan yang mewujudkan sebuah kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat yang lebih baik yang sesuai dengan yang Tuhan kehendaki.
c) gereja menyalurkan damai sejahtera Kristus melingkupi kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat.
d) gereja membentangkan standar kebenaran surga bagi sebuah kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat.
e) gereja menyalurkan kuasa dan kasih Tuhan bagi sebuah kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat.
f) gereja menyalurkan sukacita Tuhan untuk menciptakan sebuah kehidupan yang bahagia dalam berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat.
g) gereja memperluas pengaruh Kerajaan Allah hingga memasuki dan berdampak pada kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat.

IV. Gereja dipanggil untuk mentransformasi kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat.

Pada akhirnya gereja memformulasikan apa yang menjadi panggilannya dan apa yang dimilikinya untuk dapat mentransformasi kota, komunitas, wilayah, dan seluruh bangsa. Segenap kuasa, kekuatan, kemampuan, otoritas, dan panggilan yang gereja miliki dialokasikan untuk menciptakan kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat yang telah ditransformasi. Kehidupan berbangsa dan bernegara yang telah ditransformasi meliputi transformasi moral, nilai, paradigma, dan sistem sosial. Gereja terpanggil untuk mewujudkan trasformasi tersebut. Dengan kuasa dan otoritas Tuhan gereja akan mampu mewujudkan sebuah kehidupan berbangsa, berhegara, dan bermasyarakat yang sudah ditransformasi sepenuhnya.

Penutup

Gereja memiliki peranan yang sangat penting untuk berdampingan dengan negara dalam upaya mencerahkan dan merevitalisasi kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat. Apa yang telah negara “sediakan” yaitu adanya kemerdekaan, Pancasila, UUD ’45, Bhinneka Tunggal Ika, dan perwujudan NKRI, dikombinasikan dengan apa yang surga “sediakan” dan salurkan kepada gereja yaitu kuasa dan otoritas rohani maka pastilah akan mampu mewujudkan kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat yang sesuai dengan kehendak Tuhan dalam kebenaran-Nya dan harmonis dengan tujuan negara.



Sent from Fast notepad

Categories: Tak Berkategori
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: